Sabam Siagian
HEADLINE NEWS - Jika merujuk pada kata-kata bijak, ”Life begins at forty” atau
kehidupan dimulai pada usia 40 tahun, Sabam Siagian mulai hari ini
memasuki periode kedua dari kehidupannya. Sabam yang Jumat (4/5) kemarin
memasuki usia 80 tahun, hari ini mulai meniti hari pertama dari usianya
yang ke-81.
Pada periode kedua dari
kehidupannya itu, ia banyak mengisi waktu dengan membina
wartawan-wartawan muda agar dapat melakukan tugasnya secara profesional.
Selama tiga tahun belakangan ini, ia turut berpartisipasi dalam kursus
singkat (short course)
terkait sekolah jurnalisme Persatuan Wartawan Indonesia yang
berlangsung dua minggu. Topik yang dibahas adalah Hubungan Media dengan
Pemerintah.
”Dari kursus-kursus singkat itu, yang kebetulan
pesertanya wartawan muda dan paruh karier, saya mengetahui bahwa pada
hakikatnya wartawan-wartawan itu memiliki iktikad baik. Hanya saja
kondisi lingkungan di mana mereka bekerja tidak memungkinkan mereka
bekerja secara profesional,” ujar Sabam.
Menurut dia, bagi
wartawan yang bekerja di Jakarta, situasinya berbeda. Relatif mereka
dapat menjalankan tugas dengan leluasa karena kebebasan pers terjamin.
Berbeda dengan yang di daerah, terutama di luar Jawa.
”Kondisinya
jauh berbeda,” katanya. Sangat sulit bagi mereka untuk menjalankan tugas
secara profesional. Jika mereka tidak hati-hati, bukan tidak mungkin
keselamatan jiwa mereka pun terancam.
Seperti diketahui, otonomi
daerah membuat para bupati atau wali kota mempunyai kekuasaan yang
sangat besar. Mereka dapat memberikan izin konsesi tambang (batubara),
dan sekian ton batubara dibawa ke luar. Ketika salah seorang wartawan
daerah bermaksud meliput aktivitas itu, ia dipukul oleh petugas satpam
(satuan pengamanan),” kata Sabam.
Ia menambahkan, ”Ketika wartawan
itu bertanya kepada saya, bagaimana ia harus meliputnya? Saya hanya
bisa menasihatinya agar jangan meliput seorang diri. Ajaklah beberapa
kawan, terutama koresponden koran-koran besar Jakarta di daerah.
Tujuannya, agar dia tak diperlakukan (penguasa daerah) sewenang-wenang.”
Ancaman
bagi wartawan daerah untuk bekerja secara profesional tak hanya tindak
kekerasan, tetapi juga ”dibeli” dengan uang sehingga pisau analisis
kritisnya menjadi tumpul.
Sabam yang pernah menjabat sebagai Wakil
Pemimpin Redaksi Sinar Harapan (1973-1983) dan Pemimpin Redaksi The
Jakarta Post (1983-1991) sangat prihatin dengan keadaan yang membelit
profesi wartawan di daerah.
Itu sebabnya pada hari ulang tahunnya
yang ke-80, yang dirayakan di Lobby Lounge Bima Sena, Hotel Dharmawangsa
Jakarta, Sabtu siang ini, ia meluncurkan buku Melacak Makna dalam
Peristiwa: Kumpulan Selektif Kolom-kolom 2006- 2009, yang ditulisnya di
beberapa media massa.
”Buku ini saya dedikasikan bagi generasi
muda wartawan Indonesia agar mereka memegang teguh prinsip keprihatinan,
keadilan, dan keseimbangan permberitaan,” ujar Sabam penuh semangat.
Perayaan yang diadakan pukul 11.00-14.30 itu didahului kebaktian
pengucapan syukur pukul 11.00-12.00.
Turun ke lapangan
Sebagai
Pemimpin Redaksi The Jakarta Post (1983-1991), Sabam rajin turun ke
lapangan untuk meliput peristiwa penting, terutama yang berhubungan
dengan masalah internasional. Itu sebabnya wartawan- wartawan yang
meliput masalah internasional tahun 1983-1991 pasti mengenalnya dengan
baik.
Dengan berbekal notes dan bolpoin, dengan rajin ia mencatat
berbagai informasi yang dianggapnya penting di dalam jumpa pers.
Kadang-kadang ia juga membawa tape recorder yang agak besar pada jumpa
pers tokoh-tokoh penting.
Ia juga tidak segan-segan menegur
wartawan muda yang dianggap bekerja secara tidak profesional. Saya
pernah mengalaminya pada pertengahan April 1986 saat meliput jumpa pers
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat George Shultz menjelang kunjungan
Presiden AS Ronald Reagan ke Bali. Ketika itu, sebagian besar pertanyaan
yang diajukan wartawan kepada Shultz berkisar tentang bocornya reaktor
nuklir Uni Soviet di Chernobyl. Hanya sedikit pertanyaan yang diajukan
tentang kunjungan Ronald Reagan ke Bali.
Selesai mengirim berita
ke Redaksi Kompas di Jakarta, saya dan beberapa wartawan berkumpul di
kamar Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Kompas Jakob Oetama di Hotel
Santika, Kuta, Bali. Pak Jakob bertanya, bagaimana tentang jumpa pers
George Shultz. Apakah cukup ramai? Saya menjawab, ”Isi jumpa pers itu 80
persen tentang Chernobyl, hanya 20 persen tentang kunjungan Reagan ke
Bali.”
Sabam langsung memotong ucapan saya, ”Dari mana kamu tahu
bahwa pertanyaan tentang Chernobyl itu sampai 80 persen.” Saya menjawab,
”Saya hanya mengira-ngira.” Sambil membuka-buka notes dan memeriksa
catatannya, ia mengatakan, ”Dalam jumpa pers itu, ada 15 pertanyaan, dan
12 di antaranya tentang Chernobyl.” Untunglah ketika dihitung,
perkiraan saya betul, yakni 80 persen.
Sabam langsung menambahkan,
”Wartawan itu, mau dia itu pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, atau
redaktur, jika turun ke lapangan, harus bertindak sebagai reporter. Ia
harus mencatat semua informasi penting dan menajamkan informasi itu jika
belum jelas.”
Saya menyadari bahwa saya melakukan kesalahan. Itu sebabnya nasihat itu saya pegang teguh hingga saat ini.
Di
sisi lain, Sabam yang cukup populer di kalangan pejabat tinggi negara
dan kalangan diplomatik tidak segan-segan memanggil wartawan muda dan
memperkenalkannya kepada tokoh-tokoh penting. Ia juga tidak segan
membagi informasi penting yang baru diterimanya.
Pernah suatu
ketika, dalam suatu kunjungan ke Washington DC, Sabam menerima informasi
penting. Ia memanggil saya keluar dari rombongan dan pura-pura menunjuk
ke salah satu barang yang dipajang di toko. Padahal, ia tengah
membocorkan informasi yang sama sekali tidak berhubungan dengan barang
yang ditunjuk-tunjuknya.
Sabam juga aktif berpartisipasi dalam
seminar-seminar internasional yang diselenggarakan Centre for Strategic
and International Studies di berbagai negara. Namun, ia kerap menjadi
bahan ledekan di antara rekannya, seperti Fikri Jufri, August
Parengkuan, dan Jusuf Wanandi, karena ia selalu membawa mesin ketik ke
mana-mana. Padahal, rekan-rekannya sudah menggunakan laptop. ”Kalau saya
tidak mendengar suara mesin ketik, ide besar saya tidak keluar,”
ujarnya sambil tertawa.
Menurut pengakuannya, ia masih tetap tidak
dapat menggunakan komputer. ”Kalau sekretaris saya tidak masuk, ancur
deh...,” katanya.
Kepakarannya sebagai pengamat masalah
internasional menjadikannya sempat digunjingkan akan menjadi Duta Besar
Indonesia untuk Vietnam. Namun, ternyata ia malah menjadi Duta Besar
Indonesia untuk Australia (1991-1995). Dari sana, ia menjadi anggota MPR
dari Utusan Golongan (1999-2004). Kemudian menjadi Editor Senior The
Jakarta Post (2005 hingga kini).
Dalam pembahasan di Redaksi
Kompas, Jumat, Sabam Siagian mengemukakan kegundahannya. Ia merasa salah
diterima oleh saudara-saudaranya sehubungan dengan kehidupannya dengan
istrinya, Stella Maris Siagian, yang menderita penyakit Alzheimer sejak 7
tahun lalu. Saat ini, Stella dirawat di rumah perawatan (care house) di
Singapura dan kondisinya dimonitor dengan saksama selama 24 jam. ”Ia
ditunggui anak saya, Batara Bonar Siagian, yang berkerja di sana,”
katanya. Putra sulungnya, Tagor Malasak Siagian, tinggal di Jakarta.
”Ada
yang menganggap, sebagai suami, saya harus menunggui istri
terus-menerus. Namun, sebagai suami, saya juga harus menjalani kehidupan
saya sehari-hari, bukan duduk berpangku tangan dan menangisi keadaan.
Saya memilih yang kedua, di mana saya menjalani kehidupan saya yang tak
pernah lepas dari jurnalisme,” ujarnya.