Kamis, 17 Mei 2012

 Paguyuban Pasundan Menentang Pengeboran Situs
Hamparan batu yang tertata di Situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (10/2). Situs Gunung Padang di ketinggian 894 meter diatas permukaan laut (mdpl) ini merupakan peningalan peradaban Megalitik sekitar rentang waktu 2500 - 1500 SM dan merupakan situs megalitik terbesar se Asia Tenggara.

HEADLINE NEWS, CIANJUR --Ketua Paguyuban Pasundan Cianjur, Jabar, Abah Ruskawan, menentang keras rencana pengeboran yang akan dilakukan  di situs megalit Gunung Padang untuk kedua kalinya.
Bahkan dia mengancam akan melakukan aksi boikot atas rencana tersebut, sebelum dilakukan eskapasi dan restorasi di lokasi situs. Pasalnya ungkap dia, selama ini, belum ada kajian perihal tersebut dan tidak ada izin.
"Silahkan tanya apakah mereka sudah mendapat izin dari dinas terkait di tingkat kabupten dan Jabar. Intinya kami akan menentang kegiatan yang akan dilakukan selama satu bulan lebih itu," katanya, Selasa.
Dia menuturkan, pihaknya akan berkordinasi pula dengan masyarakat setempat, serta tokoh dan budayawan di Jabar, untuk menentang pengeboran yang kembali dilakukan staf khusus bencana alam itu.
"Ini jelas-jelas akan merusak situs, kita tidak tahukan efek dari pengeboran. Bisa saja batu yang ada di dalamnya rusak atau hancur, sementara yang melakukan  pengalian bukan ahlinya seperti arkeolog atau peneliti," ucapnya.
Sementara itu Eko Wiwit  kordinator Simpul Bodebekpuncur Walhi Cianjur, Jabar, mengatakan hal yang sama. Pihaknya menilai pengeboran yang dilakukan Andi Arief, merupakan bentuk dari inkonsisten ketika mengucapkan maaf di Cianjur beberapa waktu lalu.
Sehingga pihaknya akan melakukan perlawana atas rencana tersebut karena rencana tersebut jelas dia tidak melibatkan masyarakat adat dan budaya yang ada dilokasi situs seperti pengeboran pertama.
"Bukan masalah penelitian atau kajian yang telah dilakukan, namun rencana tersebut, sudah melibatkan masyarakat adat dan budaya sekitar belum. Kalau masyarakat tidak dilibatkan duduk satu meja, maka kami menentang dan akan boikot rencana tersebut," katanya.
Selain itu, tambah dia, selama ini, analisa sosial belum pernah dilakukan, terutama terhadap masyarakat adat dan budaya di sekitar lokasi. Bahkan tutur dia, selama ini, masyarakat di tingkat lokal belum mengetahui rencana tersebut.

Rabu, 16 Mei 2012

 Kirab "Bedol Projo" Warnai HUT Sleman
 
 Bedol Projo
SLEMAN --Peringatan Hari Jadi ke-96 Kabupaten Sleman dimeriahkan dengan Kirab "Bedol Projo" yang mengisahkan prosesi perpindahan pusat Pemerintahan Kabupaten Sleman dari kompleks Pesanggrahan Ambarrukmo ke Beran Tridadi Sleman, Selasa.

Prosesi Kirab Bedol Projo" tersebut ditandai penyerahan peti yang berisi dokumen dari Pemerintah Kecamatan Depok kepada Bregada Parajurit untuk dikirab ke Beran setelah sebelumnya dilakukan kenduri dan doa bersama.

Bregada dari Ketingan, Kecamatan Mlati melambangkan berdirinya Kabupaten Sleman 15 Mei 1916, yaitu ada 15 bregada sebagai tanggal, 5 bregada sebagai bulan, 19 bregada dan 16 bregada sebagai tahun lahirnya.
Kepala Seksi Sejarah Nilai dan Tradisi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman Anas Mubakir mengatakan kirab "Bedol Projo" ini dilaksanakan setiap peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman yakni pada 15 Mei.

"Acara budaya ini untuk menandai perpindahan pemerintahan Kabupaten Sleman dari kompleks Pesanggrahan Ambarukmo ke Beran Tridadi Sleman. Awalnya pusat Pemerintahan Kabupaten Sleman berada di Pasenggrahan Ambarrukmo. Namun mulai 1964 pusat pemerintah pindah ke Beran Tridadi Sleman," katanya.
Menurut dia, Pemerintahan Kabupaten Sleman di Pasangrahan Ambarrukmo mulai 1947 hingga 1964. "Selama itu ada lima bupati yang menjabat yakni KRT Pringgodiningratan (1945-1947), KRT Projodiningratan (1947-1950), KRT Diponingratan (1955-1959) dan KRT Murdodiningrat (1959-1974)," katanya.

Ia mengatakan, sebelum 1947 Kabupaten Sleman masih kawedanan, yaitu masih ada Sleman timur, tengah dan Barat dan sejak 1947 dijadikan satu. "Pusat Pemerintahan Kabupaten Sleman saat itu di Pasanggrahan Ambarrukmo," katanya.

Selasa, 15 Mei 2012

Dialog Punakawan dengan Emha Ainun Najib
ILUSTRASI
HEADLINE NEWS, OASE --Dialog Punakawan dengan tokoh budayawan, Emha Ainun Najib mewarnai pergelaran Wayang Punakawan Nusantara Madagaskar (WPNM) dengan cerita Semar Mengunjungi Kerabat di Madagaskar bertempat di Wisma Indonesia, Madagaskar, pada akhir pekan.

Dialog hubungan bilateral Indonesia-Madagaskar dan prospeknya dilihat dari kacamata budaya sebagaimana yang tergambar dari berbagai karya sastranya dilakukan melalui sambungan jarak jauh, demikian Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Antananarivo, Hanggorono Nurcahyo di London, Selasa.

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Antananarivo pagelaran Wayang Punakawan Nusantara Madagaskar (WPNM) merupakan pagelaran perdana yang diselenggarakan di Madagaskar kreasi Kepala Perwakilan RI/Kuasa Usaha Tetap (KUTAP) RI Antananarivo, Artanto S. Wargadinata sebagai salah satu langkah pelaksanaan Total Diplomacy KBRI Antananarivo khususnya dalam program Trade Tourism Investment and Cultural (TTIC).

Pementasan ini disaksikan sekitar 125 orang terdiri dari masyarakat Indonesia yang bermukim di Madagaskar juga anggota Ikatan Alumni Indonesia (IAI) yang tergabung dalam Masyarakat Malagasy yang pernah mengikuti pendidikan atau pelatihan di Indonesia, seperti Kerjasama Negara Berkembang atau KNB, Dharmasiswa, Lemhanas dan Sesko TNI.

Pagelaran yang bertema Semar is Visiting Relatives in Madagascar atau Semar dia nitsidika ny rahalaliny eto Madagasikara itu dilakukan KUTAP RI dibantu sejumlah Staf KBRI Antananarivo selama kurang lebih satu jam yang berhasil memukau penonton.

Pementasan ini dilakukan dengan Bahasa Indonesia yang diselingi bahasa-bahasa lainnya seperti Inggris, Malagasy, Perancis, Arab, Hindi dan Italia serta beberapa dialog dengan bahasa daerah yang banyak bersentuhan dengan kebudayaan dan bahasa Malagasi antara lain Dayak. Manyaan, Banjar, Batak Toba, Palembang, Jawa dan Sunda.

Selama pementasan, terdapat sesi khusus dialog interaktif antara wakil hadirin dengan tokoh budayawan, Emha Ainun Najib melalui sambungan jarak jauh tentang hubungan bilateral Indonesia-Madagaskar dan prospeknya dilihat dari kacamata budaya sebagaimana yang tergambar dari berbagai karya sastranya.

Dua wakil penonton Romo Bono dan Jenderal Gendarmerie Madagaskar alumni Sesko TNI, Jenderal Rakotomanana ikut memeriahkan suasana pementasan. Romo Bono saat ini sedang mengadakan penelitian mengikuti hasil penelitian sarjana Norwegia Otto Christian Dahl, penulis buku Migration from Kalimantan to Madagascar (1991).

Kuasa Usaha Tetap (KUTAP) RI Antananarivo, Artanto S. Wargadinata mengatakan melalui Soft Power Diplomacy yang salah satu bentuknya adalah Pagelaran WPNM tersebut, diharapkan mampu menjadi bridging saling pengertian posisi masing-masing pihak, peningkatan kerjasama dalam bidang ekonomi perdagangan dan investasi serta sosial budaya berupa pendidikan dan kerja sama teknik.

Diharapkan menjadi stimulus bagi pengembangan kerjasama bilateral di masa mendatang seperti Kajian pembukaan Indonesian Center, Studi Bahasa Indonesia dan/atau Bahasa Malagasy, Kerjasama Bidang Kepemudaan dan Olah Raga, serta Kerjasama Bidang Lingkungan Hidup.

Madagaskar yang saat ini yang berpenduduk k.l. 21 juta jiwa potensial menjadi modalitas yang signifikan bagi pengembangan hubungan bilateral disegala bidang. Pagelaran WPNM ini diharapkan pula mampu menumbuhkembangkan hubungan kedua bangsa dan negara yang didasari oleh Persaudaraan Abadi, Silaturahmi dan Tali Kasih.

Hanggorono Nurcahyo mengatakan gubungan bilateral Indonesia dengan Madagaskar tergolong unik karena adanya hubungan psikologis-historis antara kedua suku bangsa. Suku terbesar di Madagaskar, yaitu suku Imeria, yang bermukim di wilayah Antananarivo adalah keturunan dari bangsa Polinesia bagian Indonesia yang melakukan migrasi ke Madagaskar pada abad ke-5 Masehi.

Bahasa Madagaskar merupakan salah satu rumpun bahasa Melayu Polinesia, bahkan sangat mirip dengan bahasa suku Manyan salah satu suku dayak di Kalimantan Barat, demikian Hanggorono Nurcahyo.

Minggu, 13 Mei 2012

 Cultuur=Tandur=Keseharian Jrabang
 
HEADLINE NEWS - Pameran Lukisan Jrabang - Pengunjung melihat lukisan karya Bibit "Jrabang" Waluyo yang digelar dalam pameran bertajuk CultuurTandur di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (10/5/2012). Lukisan Jrabang dengan teknik sungging tampil sederhana namun memiliki retorika visual yang kuat. Pameran berlangsung hingga 19 Mei 2012.
Melalui teknik sungging yang rapi, Bibit ”Jrabang” Waluya menyuguhkan keseharian orang Jawa dalam pameran bertajuk ”Cultuur Tandur” di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah Selatan, 10-19 Mei 2012. Kadang jenaka, kadang satir, kadang sinis, Jrabang memainkan berbagai paradoks kehidupan orang Jawa yang gamang merasa kehilangan ”kejawaan” mereka.
Si bapak yang sedang menggendong orok tersenyum lebar ketika anak lelaki menaruh ”helm” bakul nasi kepala si bapak. Si bapak tersenyum, meski kakinya dikerubuti dua anak lainnya, meski di belakangnya ada anaknya yang lain lagi mengacung-acungkan centong.
Si ibu yang duduk di hadapan si bapak itu juga tersenyum meski empat anak yang lain merubungnya. Seorang tidur di pangkuan si ibu, seorang menyisir rambat panjang si ibu, seorang meliliti si ibu dengan sampur, seorang lainnya bermain-main dengan tudung saji.
Lukisan berjudul ”Keluarga Berencana” (2012) itu merupakan satu dari 13 karya Bibit ”Jrabang” Waluya yang dipamerkan. Satu dari lukisan-lukisan Bibit yang selalu memancing senyum melihat bagaimana Jrabang memainkan kontras ”Keluarga Berencana” dan ”banyak anak banyak rezeki”.
Dengan ”biasa”, Bibit menaruh segala peralatan makan keluarga besar itu sebagai mainan anak-anak. Begitu ”biasa” sehingga mungkin orang akan lupa bertanya, ”Mana nasi isi cething (bakul) itu?”
Kontras yang lain, antara guyub dan kesendirian, tampak dalam lukisan 12 orang yang sedang merubungi sebuah tampah dan berlomba memakan urap-urap di tampah dalam karya ”Tajamu’an” (2012). Di sebelah mereka, seorang lainnya tersendiri dari reriuhan menyantap urap-urap itu karena sibuk bercakap lewat telepon genggam.
Gudangan atau urap-urap acap terlihat di berbagai selametan atau kenduri di desa-desa. Orang bersama lewat telepon genggam pun bukan hal baru di kampung-kampung. Di kanvas Jrabang, kebersamaan dicuatkan bersamaan dengan keterpisahan. Telepon genggam memang selalu mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat.
Lukisan keluarga lainnya, ”Brayut Family” juga lebih dari yang sekadar terlihat. Lukisan itu mirip dengan foto keluarga tempo doeloe, ayah dan ibu duduk dikelilingi anak-cucu mereka. Ada anak atau menantu yang berseragam tentara, berseragam pegawai negeri sipil, berbaju sekolah, bahkan cucu di pangkuan si kakek pun berbaju tentara.
Dalam katalog pameran, penulis Setyawan mengulas tentang karya Jrabang. ”Brayut Family” adalah representasi literasi visual yang bergerak di antara pengalaman empiris si seniman... orang berseragam militer bukan semata-mata anggota keluarga yang militer... seragam dikenakan menjadi atribut sosial di mana si pemakai menambatkan identitas,” tulis Setyawan.
”Ingkung Garuda”
Jrabang melukiskan semuanya dengan teknik sungging, mirip dengan teknik melukis wayang kulit atau wayang beber. Tidak ada perspektif ruang dalam lukisan orang-orang biasa berwajah wayang dan beranatomi wayang. Yang ada justru ruang kanvas yang disisakan kosong yang membolak-balik kelaziman, menampilkan paradoks keseharian hidup orang Jawa.
Orang Jawa dan keseharian mereka adalah pusar proses kreatif Jrabang yang gelisah melihat orang berbondong-bondong mencari masa lalu kebudayaan Jawa yang konon adiluhung. ”Padahal, ’kebudayaan Jawa yang adiluhung’ itu hanya seremoni. Apa fungsi ’kebudayaan Jawa yang adiluhung’ bagi keseharian orang Jawa? Bagi saya, kebudayaan adalah keseharian hidup,” kata Jrabang.
Simbol dan penanda ”kebudayaan Jawa” di tangan Jrabang terolah menjadi beragam rupa, menyuguhkan komedi, parodi. ”Ingkung Garuda” yang dilukis Jrabang pada 2008 bahkan memunculkan sinisme Jrabang melihat persoalan sosial Indonesia.
Ingkung merupakan masakan khas Jawa yang lazimnya berbahan daging ayam yang dimasak utuh sebagai sesaji. Namun, ingkung di kanvas Jrabang adalah burung garuda itu terkulai ambruk beralaskan perisai bersegi lima berwarna merah, putih, dan hitam. Ingkung burung garuda itu dirubung berpuluh lalat, seperti daging busuk.
Namun, pesona Jrabang adalah kejenakaan, keriangan yang muncul dari lukisan keseharian orang berwajah dan bertubuh wayang. Kejenakaan yang bercerita segala paradoks ”kebudayaan Jawa” yang membuat kita tersenyum diam-diam. Dan malu-malu.

Sabtu, 12 Mei 2012

Gunung Salak dan Pesawat Jatuh
 
 Basarnas melakukan komunikasi radio di kaki Gunung Salak, Sukabumi, Jawa Barat, dalam upaya pencarian pesawat Sukhoi Superjet 100, Kamis (10/5/2012). Pesawat Sukhoi Superjet 100 jatuh di Gunung Salak Sukabumi, Jawa Barat, Rabu 3 Mei lalu saat melakukan demo penerbangan yang disebut Joy Flight.
HEADLINE NEWS - Boleh dikata Gunung Salak yang ada di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, adalah sebuah "kuburan" pesawat terbang karena sudah sering kecelakaan pesawat terjadi di gunung ini.
Bahkan, banyak orang yang mengaitkan gunung ini dengan hal-hal mistis, di antaranya karena selimut tebal kabut di gunung ini yang bagi sebagian orang dianggap misterius.
Namun, secara logika, kabut tebal di gunung ini memang secara tidak langsung akan mengganggu perjalanan pesawat terbang seperti terjadi pada pesawat buatan Rusia, Sukhoi Superjet (SJJ) 100 yang diduga menabrak tebing gunung ini.
Bagi pegiat alam bebas, karakteristik gunung tersebut terbilang unik dibandingkan gunung-gunung lain di Pulau Jawa. Karakteristiknya menyerupai gunung di Bukit Barisan yang membelah Sumatera.
Gunung Salak juga menelan banyak korban dari kalangan pendaki gunung. Medannya yang ekstrem ditambah hutan yang lebat membuat orang yang kurang memahami alam bebas, tersesat.
Mengutip Wikipedia, hutan di Gunung Salak terdiri dari hutan pegunungan bawah (submontane forest) dan hutan pegunungan atas (montane forest).
Bagian bawah kawasan hutan, semula adalah hutan produksi kelolaan Perum Perhutani.
Di antara jenis pohon yang ditanam di sini adalah tusam (Pinus merkusii), rasamala (Altingia excelsa).
Pada beberapa lokasi, terutama arah Cidahu, Sukabumi, ditemukan pula jenis tumbuhan langka bernama Rafflesia rochussenii yang menyebar terbatas sampai Gunung Gede dan Gunung Pangrango di dekatnya.
Bukan jalur penerbangan
Lalu, mengapa Gunung Salak disebut sebagai "kuburan" pesawat terbang?
Dari catatan sejumlah media online, di gunung yang masuk ke wilayah Taman Nasional Gunung Salak Halimun ini memang kerap terjadi rangkaian kecelakaan pesawat.
Pada 15 April 2004, pesawat Paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport, jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Tiga orang tewas akibat kecelakaan ini.
20 Juni 2004, pesawat Cessna 185 Skywagon, jatuh di Danau Lido, Cijeruk, Bogor. Lima orang tewas.  Kemudian pada Juni 2008, pesawat Casa 212 TNI AU jatuh di Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut. Kecelakaan ini menewaskan 18 orang.
30 April 2009, tiga orang tewas setelah kecelakaan terjadi pada pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor.
Selanjutnya yang terakhir ini, pesawat SSJ-100 buatan Rusia berpenumpang 46 orang jatuh pada 9 Mei 2012.
Sejumlah kalangan keheranan mengapa Sukhoi yang malang ini turun ke ketinggian yang justru di bawah tinggi gunung.
Staf Ahli Menristek Bidang Pertahanan Keamanan Hari Purwanto bahkan menyatakan penerbangan melalui kawasan Gunung Salak seharusnya tidak dilakukan pada ketinggian 6.000 kaki karena tinggi gunung itu sendiri sekitar 2.200 meter. Belum lagi awan tebal selalu meliputi pegunungan itu.
"Biasanya penerbangan dari Halim menuju Pelabuhan Ratu di ketinggian 12.000 kaki dan standar minimum 8.000 kaki, tapi Sukhoi ini terbang dari ketinggian 10.000 kaki, mengapa turun ke 6.000 kaki?" kata Hari Purwanto di Makassar, Kamis.
Pesawat Sukhoi Super Jet 100 buatan Rusia yang sempat hilang kontak saat joy flight dari Halim Perdanakusuma ke Pelabuhan Ratu diperkirakan menabrak pinggir tebing Gunung Salak. 45 orang yang menumpangi pesawat ini diperkirakan tewas.
Hari menyebutkan tiga faktor yang mungkin menyebabkan sebuah pesawat jatuh di Gunung Salak.  Ketiganya adalah faktor cuaca, faktor kesalahan manusia, dan faktor kelaikan pesawat.
Ia mengingatkan bahwa jalur penerbangan Bandara Halim Perdanakusuma ke Pelabuhan Ratu via Gunung Salak bukan jalur penerbangan. Pun bukan area aman untuk penerbangan, apalagi bagi pilot yang tidak terlalu mengerti medan di sana.
Pesawat Sukhoi yang telah dipesan penerbangan swasta Indonesia untuk penerbangan komersial itu diakuinya sudah diuji di sejumlah negara lain sebelum diuji di Indonesia, seperti Myanmar atau negara yang pasarnya terbuka bagi pesawat di luar Boeing, Airbus, dan lainnya.
Hari mengungkapkan, pada masa lalu, semua pesawat yang akan digunakan di Indonesia harus melalui kajian atau review teknologi dari BPPT. Namun, sejak satu dekade ini review itu tidak dilakukan lagi.

Jumat, 11 Mei 2012

Budaya Makassar-India Dipadukan dalam Drama Musikal
ILUSTRASI
MAKASSAR -- Budaya Makassar dan India dipadukan dalam sebuah drama musikal bertajuk "I Basse Goes to Hollywood" yang menceritakan tentang kisah cinta sejati antara Basse (panggilan sayang untuk anak perempuan dalam bahasa Makassar) dan Sharul Khang.
"Pertunjukan ini menggunakan dialek asli Makassar dan diperankan oleh pemain-pemain berbakat juga dari Makassar," kata Marcomm Manager Trans Studio Makassar Imelda Christiana di Makassar, Kamis.
Selain kental dengan budaya lokal dengan unsur cerita Makassar di dalamnya, pertunjukan drama musikal ini juga memasukkan unsur tarian dan busana layaknya film-film India. "Tata panggung, koreografi serta semua hal yang ditampilkan dalam drama musikal ini berkualitas," ujarnya.
Diceritakan Imelda, Basse dan Sharul Kang adalah pasangan kekasih yang saling mencintai. Namun, kisah cinta sejati itu harus kandas ketika Basse terpaksa menerima pinangan Juragan Rambo untuk membayar utang orang tuanya.
Tak mampu menghadapi kenyataan kekasihnya harus menikah dengan orang lain, Sharul Kang pergi ke Bollywood untuk mengejar impiannya menjadi aktor terkenal.
Basse kemudian harus kembali menelan takdir ditinggalkan ibu tercintanya dan hidup sebatang kara. Namun, untungnya ada Sanjoy Dutt yang menolong Basse dengan mengajaknya untuk bekerja sebagai asisten di Bollywood.
Apakah cinta sejati Basse dan Sharul Kang dapat kembali terjalin di tengah keriaan Bollywood? Pertunjukan drama musikal yang dipersembahkan bagi masyarakat Makassar ini ditampilkan di Trans Studio Theme Park setiap hari, mulai pukul 14.00 WITA.
Pertunjukan drama musikal dramatis yang didukung oleh berbagai spesial efek dan koreografi megah bertaraf internasional ini merupakan inovasi pertunjukan terbaru yang ditampilkan oleh wahana rekreasi keluarga tersebut. "Merupakan kebanggaan, bisa memberikan hiburan berskala internasional. Namun, tetap mengedepankan budaya dan talent lokal," tambah Imelda.

Kamis, 10 Mei 2012

Pemkab Sleman Gelar Lomba Karawitan
ILUSTRASI
SLEMAN -- Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu, menyelenggarakan lomba karawitan antarkecamatan dalam rangka peringatan Hari Jadi Ke-96 Kabupaten Sleman.

"Lomba karawitan ini diikuti 11 kecamatan di Kabupaten Sleman, sedangkan maksud lomba ini adalah untuk menggali kembali semangat kebersamaan dalam iklim kompetisi di kalangan seniman karawitan," kata Kepala Humas Pemkab Sleman Endah Sri Widiastuti di Sleman, Rabu.

Ia menjelaskan, tujuan lomba karawitan menggali potensi seniman dan seniwati karawitan yang berbakat di wilayah kecamatan se-Kabupaten Sleman.

"Selain itu juga sebagai salah satu upaya dalam rangka pembinaan, pengembangan, dan pelestarian kesenian daerah, khususnya seni karawitan," katanya.

Ia mengharapkan, lomba itu dapat mendorong kecintaan masyarakat terhadap seni tradisi yang adiluhung khususnya seni karawitan yang mengarah kepada pembentukan jati diri bangsa yang saat ini dirasa semakin luntur.

"Lomba ini juga untuk mendukung kecamatan sebagai pusat pengembangan seni budaya dan sosialisasi Hari Jadi Ke-96 Kabupaten Sleman," katanya.

Bupati Sleman Sri Purnomo saat membuka lomba tersebut mengatakan, kegiatan itu bisa menggali potensi di kecamatan-kecamatan di Kabupaten Sleman.

"Potensi kesenian karawitan ini agar nanti tetap dijaga dan dilestarikan, dihidup-hidupkan bahkan nanti juga bisa berkembang. Lebih-lebih nanti bisa muncul yang muda-muda karena saat ini yang muncul masih tua-tua, maka ini dipertahankan dulu baru nanti ditularkan pada yang muda-muda," katanya.

Rabu, 09 Mei 2012

Geolog: Hentikan Pencurian Fosil Merangin!
JAMBI, HEADLINE NEWS -- Geolog tim peneliti dan tim percepatan pengembangan "Geopark" Merangin menyerukan agar aksi penjarahan fosil-fosil flora serta material-material lainnya di dalam kawasan itu dihentikan.
Tak dapat dipungkiri, kasus pencurian atau pengambilan fosil-fosil flora berupa batang kayu yang membatu, pepohonan yang menempel di batu atau pun berupa batu-batu sueseki di hamparan sungai yang menjadi kawasan Geopark Merangin sudah terjadi sejak lama," kata Ketua Divisi Geologi tim peneliti Geopark Merangin Prof Fauzi Hasibuan di Jambi, Selasa.
Penjarahan atau pengambilan tinggalan-tinggalan fosil di kawasan yang merupakan warisan bumi berusia 300 juta tahun lalu itu, sangat mengancam kelestarian material geologi di kawasan yang akan disahkan Unesco sebagai warisan dunia pada 2015 mendatang.
Kasus pencurian fosil tersebut masih diduga masih terjadi hingga kini, karena saat penelitian awal 2011, tim sudah mengidentifikasi sebuah fosil pohon puluhan meter, namun setelah dilakukan pengecekan ulang fosil tersebut sudah tidak lagi di tempatnya.
Kondisi ini sangat tidak ingin didengar oleh Unesco, karena salah satu persyaratan dari pengesahan itu adalah kelestarian material geologi yang ada.
"Jangankan dicuri, dipindah tempatkan saja tanpa sepengetahuan mereka sangat tidak dibolehkan," tegasnya.
Pasalnya, konsep pengembangan konservasi warisan bumi dan alam harus sinergi dengan potensi kepariwisataan dan budaya masyarakat secara integral seperti yang termaktub dalam konsep geopark.
Ia mengatakan, semua pihak harus menyadari bahwa Geopark Merangin ini tengah dalam pantauan intensif pihak Unesco karena akan menjadi geopark pertama di Indonesia yang akan segera masuk jaringan geopark dunia.
Bahkan jika perlu demi menjaga kelestarian atau menjamin keberadaan fosil-fosil berumur ratusan juta tahun itu, perlu dilibatkan aparat keamanan dan pertahanan negara.
Sebab, tidak saja pencurian atas fosil yang ada dalam kawasan tersebut yang dilarang, namun juga rangkaian geologi di sekitarnya yakni Sungai Batang Merangin dan sungai-sungai lainnya.
Penambangan dan penjarahan batu-batu sueseki di sepanjang Sungai Batang Merangin di kawasan Kabupaten Kerinci, yang telah berlangsung sejak 15-20 tahun lalu oleh masyarakat setempat yang menjadikannya sebagai komoditi perdagangan dan sumber ekonomi, juga termasuk yang dilarang.
Fauzi mengharapkan jangan ada adalagi penambangan, pencurian, penjarahan, perdagangan, perusakan ataupun pemindahan segala bentuk aset material geologi dalam kawasan Geopark Merangin.
Tindakan itu tidak hanya merusak alam tapi juga telah memutus mata rantai kehidupan manusia yang sangat berharga sebagai penghumi bumi ini, tambahnya.

Selasa, 08 Mei 2012

Kebudayaan, Kunci Kemajuan Bangsa
 
 ILUSTRASI
BANDUNG — Kebudayaan Indonesia belum bisa mendorong kemajuan negeri ini. Padahal, kebudayaan diyakini berperan penting mendorong kemajuan ekonomi dan politik bangsa yang masih morat-marit.
Pembahasan bagaimana sesungguhnya signifikansi dan peran kebudayaan Indonesia serta sampai sejauh mana sebenarnya faktor-faktor budaya membentuk perkembangan pembangunan di Indonesia dibahas dalam seminar soal kebudayaan di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung.
Seminar nasional bertajuk "Peran Kebudayaan untuk Kemajuan Bangsa" berlangsung di Ruang Mgr Geise Lecturer FISIP Unpar, Ciumbuleuit, Bandung, pada Selasa (8/5/2012), mulai pukul 09.30. Seminar yang terbuka untuk umum ini diselenggarakan Nabil Society, bekerja sama dengan FISIP Unpar dan Harian Kompas.
Dalam seminar ini ditawarkan cross cultural fertilization sebagai suatu strategi kebudayaan yang diharapkan mampu memfasilitasi kemajuan bangsa Indonesia. Tujuannya, untuk membuat Indonesia dapat tampil dan bersaing dalam menghadapi tantangan global.
Seminar menghadirkan pembicara Dr Yudi Latif dari Reform Institute, Dr Yasraf Amir Piliang dari Institut Teknologi Bandung, dan Arie Indra Chandra dari Unpar.

Minggu, 06 Mei 2012

Jurnalisme Itu adalah Kehidupan Saya
 Sabam Siagian
HEADLINE NEWS - Jika merujuk pada kata-kata bijak, ”Life begins at forty” atau kehidupan dimulai pada usia 40 tahun, Sabam Siagian mulai hari ini memasuki periode kedua dari kehidupannya. Sabam yang Jumat (4/5) kemarin memasuki usia 80 tahun, hari ini mulai meniti hari pertama dari usianya yang ke-81.
Pada periode kedua dari kehidupannya itu, ia banyak mengisi waktu dengan membina wartawan-wartawan muda agar dapat melakukan tugasnya secara profesional. Selama tiga tahun belakangan ini, ia turut berpartisipasi dalam kursus singkat (short course) terkait sekolah jurnalisme Persatuan Wartawan Indonesia yang berlangsung dua minggu. Topik yang dibahas adalah Hubungan Media dengan Pemerintah.
”Dari kursus-kursus singkat itu, yang kebetulan pesertanya wartawan muda dan paruh karier, saya mengetahui bahwa pada hakikatnya wartawan-wartawan itu memiliki iktikad baik. Hanya saja kondisi lingkungan di mana mereka bekerja tidak memungkinkan mereka bekerja secara profesional,” ujar Sabam.
Menurut dia, bagi wartawan yang bekerja di Jakarta, situasinya berbeda. Relatif mereka dapat menjalankan tugas dengan leluasa karena kebebasan pers terjamin. Berbeda dengan yang di daerah, terutama di luar Jawa.
”Kondisinya jauh berbeda,” katanya. Sangat sulit bagi mereka untuk menjalankan tugas secara profesional. Jika mereka tidak hati-hati, bukan tidak mungkin keselamatan jiwa mereka pun terancam.
Seperti diketahui, otonomi daerah membuat para bupati atau wali kota mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Mereka dapat memberikan izin konsesi tambang (batubara), dan sekian ton batubara dibawa ke luar. Ketika salah seorang wartawan daerah bermaksud meliput aktivitas itu, ia dipukul oleh petugas satpam (satuan pengamanan),” kata Sabam.
Ia menambahkan, ”Ketika wartawan itu bertanya kepada saya, bagaimana ia harus meliputnya? Saya hanya bisa menasihatinya agar jangan meliput seorang diri. Ajaklah beberapa kawan, terutama koresponden koran-koran besar Jakarta di daerah. Tujuannya, agar dia tak diperlakukan (penguasa daerah) sewenang-wenang.”
Ancaman bagi wartawan daerah untuk bekerja secara profesional tak hanya tindak kekerasan, tetapi juga ”dibeli” dengan uang sehingga pisau analisis kritisnya menjadi tumpul.
Sabam yang pernah menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Sinar Harapan (1973-1983) dan Pemimpin Redaksi The Jakarta Post (1983-1991) sangat prihatin dengan keadaan yang membelit profesi wartawan di daerah.
Itu sebabnya pada hari ulang tahunnya yang ke-80, yang dirayakan di Lobby Lounge Bima Sena, Hotel Dharmawangsa Jakarta, Sabtu siang ini, ia meluncurkan buku Melacak Makna dalam Peristiwa: Kumpulan Selektif Kolom-kolom 2006- 2009, yang ditulisnya di beberapa media massa.
”Buku ini saya dedikasikan bagi generasi muda wartawan Indonesia agar mereka memegang teguh prinsip keprihatinan, keadilan, dan keseimbangan permberitaan,” ujar Sabam penuh semangat. Perayaan yang diadakan pukul 11.00-14.30 itu didahului kebaktian pengucapan syukur pukul 11.00-12.00.
Turun ke lapangan
Sebagai Pemimpin Redaksi The Jakarta Post (1983-1991), Sabam rajin turun ke lapangan untuk meliput peristiwa penting, terutama yang berhubungan dengan masalah internasional. Itu sebabnya wartawan- wartawan yang meliput masalah internasional tahun 1983-1991 pasti mengenalnya dengan baik.
Dengan berbekal notes dan bolpoin, dengan rajin ia mencatat berbagai informasi yang dianggapnya penting di dalam jumpa pers. Kadang-kadang ia juga membawa tape recorder yang agak besar pada jumpa pers tokoh-tokoh penting.
Ia juga tidak segan-segan menegur wartawan muda yang dianggap bekerja secara tidak profesional. Saya pernah mengalaminya pada pertengahan April 1986 saat meliput jumpa pers Menteri Luar Negeri Amerika Serikat George Shultz menjelang kunjungan Presiden AS Ronald Reagan ke Bali. Ketika itu, sebagian besar pertanyaan yang diajukan wartawan kepada Shultz berkisar tentang bocornya reaktor nuklir Uni Soviet di Chernobyl. Hanya sedikit pertanyaan yang diajukan tentang kunjungan Ronald Reagan ke Bali.
Selesai mengirim berita ke Redaksi Kompas di Jakarta, saya dan beberapa wartawan berkumpul di kamar Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Kompas Jakob Oetama di Hotel Santika, Kuta, Bali. Pak Jakob bertanya, bagaimana tentang jumpa pers George Shultz. Apakah cukup ramai? Saya menjawab, ”Isi jumpa pers itu 80 persen tentang Chernobyl, hanya 20 persen tentang kunjungan Reagan ke Bali.”
Sabam langsung memotong ucapan saya, ”Dari mana kamu tahu bahwa pertanyaan tentang Chernobyl itu sampai 80 persen.” Saya menjawab, ”Saya hanya mengira-ngira.” Sambil membuka-buka notes dan memeriksa catatannya, ia mengatakan, ”Dalam jumpa pers itu, ada 15 pertanyaan, dan 12 di antaranya tentang Chernobyl.” Untunglah ketika dihitung, perkiraan saya betul, yakni 80 persen.
Sabam langsung menambahkan, ”Wartawan itu, mau dia itu pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, atau redaktur, jika turun ke lapangan, harus bertindak sebagai reporter. Ia harus mencatat semua informasi penting dan menajamkan informasi itu jika belum jelas.”
Saya menyadari bahwa saya melakukan kesalahan. Itu sebabnya nasihat itu saya pegang teguh hingga saat ini.
Di sisi lain, Sabam yang cukup populer di kalangan pejabat tinggi negara dan kalangan diplomatik tidak segan-segan memanggil wartawan muda dan memperkenalkannya kepada tokoh-tokoh penting. Ia juga tidak segan membagi informasi penting yang baru diterimanya.
Pernah suatu ketika, dalam suatu kunjungan ke Washington DC, Sabam menerima informasi penting. Ia memanggil saya keluar dari rombongan dan pura-pura menunjuk ke salah satu barang yang dipajang di toko. Padahal, ia tengah membocorkan informasi yang sama sekali tidak berhubungan dengan barang yang ditunjuk-tunjuknya.
Sabam juga aktif berpartisipasi dalam seminar-seminar internasional yang diselenggarakan Centre for Strategic and International Studies di berbagai negara. Namun, ia kerap menjadi bahan ledekan di antara rekannya, seperti Fikri Jufri, August Parengkuan, dan Jusuf Wanandi, karena ia selalu membawa mesin ketik ke mana-mana. Padahal, rekan-rekannya sudah menggunakan laptop. ”Kalau saya tidak mendengar suara mesin ketik, ide besar saya tidak keluar,” ujarnya sambil tertawa.
Menurut pengakuannya, ia masih tetap tidak dapat menggunakan komputer. ”Kalau sekretaris saya tidak masuk, ancur deh...,” katanya.
Kepakarannya sebagai pengamat masalah internasional menjadikannya sempat digunjingkan akan menjadi Duta Besar Indonesia untuk Vietnam. Namun, ternyata ia malah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Australia (1991-1995). Dari sana, ia menjadi anggota MPR dari Utusan Golongan (1999-2004). Kemudian menjadi Editor Senior The Jakarta Post (2005 hingga kini).
Dalam pembahasan di Redaksi Kompas, Jumat, Sabam Siagian mengemukakan kegundahannya. Ia merasa salah diterima oleh saudara-saudaranya sehubungan dengan kehidupannya dengan istrinya, Stella Maris Siagian, yang menderita penyakit Alzheimer sejak 7 tahun lalu. Saat ini, Stella dirawat di rumah perawatan (care house) di Singapura dan kondisinya dimonitor dengan saksama selama 24 jam. ”Ia ditunggui anak saya, Batara Bonar Siagian, yang berkerja di sana,” katanya. Putra sulungnya, Tagor Malasak Siagian, tinggal di Jakarta.
”Ada yang menganggap, sebagai suami, saya harus menunggui istri terus-menerus. Namun, sebagai suami, saya juga harus menjalani kehidupan saya sehari-hari, bukan duduk berpangku tangan dan menangisi keadaan. Saya memilih yang kedua, di mana saya menjalani kehidupan saya yang tak pernah lepas dari jurnalisme,” ujarnya.

Selasa, 01 Mei 2012

Sawung Jabo dan Oppie Menyuarakan Protes Lewat PoP
 Musikalisasi PoP. Dari Kiri-kanan: Oppie Andaresta, Budi Djarot dan Sawung Jabo.
JAKARTA, --  Selasa (1/5/2012) malam ini sebuah pertunjukan musikalisasi akan digelar di Graha Bhakti Budaya (GBB) Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pentas yang bertema Protest of People (PoP)itu akan diramaikan dengan kehadiran musisi Sawung Jabo, Oppie Andaresta  dan budayawan Arswendo Atmowiloto.

Budi Djarot, penggagas acara musikalisasi PoP, mengatakan konser ini digelar sebagai media pengingat bagi para pengelola negara di negeri ini. "Ini memang bukan hiburan yang memanjakan. Tapi sebuah pertunjukan tuntunan yang membangun kesadaran agar kita tetap terjaga dan selalu awas untuk memerhatikan para pengelola negeri ini," ujarnya dalam siaran pers, Selasa (1/5/2012).

Meski begitu, kata Budi, bukan berarti sajian musik yang ditawarkan tak memperhatikan kemasan sebuah pertunjukan. Selain sajian musik ada juga sajian teater, yang mencoba menggambarkan suara keprihatinan dari kami. 

Tak hanya melibatkan Sawung Jabo, Oppie dan Arswendo, musikalisasi PoP akan dimeriahkan dengan penampilan  pemain saxophone Kanny Joe, Maccato Ensambel, RAK Band, Isti Nugroho, Herlina Syarifudin, Syam Biola, Alika Mitari, dan Ar-Tasya Sudirman. ”Lirik-lirik lagu yang kami tampilkan ya memprotes situasi kondisi pengelolaan negara sekarang ini. Juga ada segmen untuk teater," ujarnya.

Musikalisasi PoP, lanjut Budi, merupakan ide lama semenjak mahasiswa yang suka melakukan aksi demonstrasi. "Ini ide sudah lama, karena memang saya kerjaannya protes. Kalau dulu saya protesnya di jalanan, sekarang di panggung, jadi lebih sopan dikit," selorohnya.

Sebagai bentuk apresiasi, kata Budi, tiket untuk pertunjukan dipatok dari Rp 50.000 - Rp 100.000.

Senin, 30 April 2012

Eksistensi Kehidupan dalam Lembar Kain Batik

 ILUSTRASI
MEDIA INFORMASI - Dengan memberikan apresiasi dari kondisi hidup, ketekunan hidup,dan karya-karya batik Bude Sulasmi telah menginspirasi kami dalam melahirkan karya-karya kami. Ketika kami menyentuh jari-jemari para pembatik itu, kami merasakan sentuhan yang indah
Setiap kali mendatangi perajin batik di Dusun Kebon Indah, Kecamatan Bayat, Klaten Bude Salami selalu menyambut dengan jabat tangan . Telapak tangan dan jari-jarinya terasa selalu hangat, meskipun terlihat jari-jarinya selalu lengket oleh lilin lebah yang digunakan untuk membuat batik tulis. "Kotor-kotor," katanya dengan ucapan permintaan maaf penuh rendah hati. .   
Sederhana dan terkesan biasa saja apa yang diungkapkan dua perupa Samanta Tio (Singapura) dan Budi Agung Kusworo (Yogyakarta) dalam katalog pameran karya rupa batik yang berlangsung di ruang pamer (Indonesia Contemporary Art Network), Jl Surayodiningratan, Yogyakarta.
Namun perjumpaan dua perupa itu dengan Bude Lasmi perempuan pembatik tradisional dan juga pembatik-pembatik lainnya,  adalah sebuah proses dari sebuah karya rupa batik kontemporer yang memberi wacana lain dalam khasanah estetika batik.
Ya, sekali lagi pameran ini seperti meneguhkan bahwa proses merupakan kunci dari sebuah karya seni. Sikap hidup, pergaulan dan pergulatan sosial, sangat mendasari penciptaan karya dua perupa ini. "Dengan memberikan apresiasi dari kondisi hidup, ketekunan hidup,dan karya-karya batik Bude Sulasmi telah menginspirasi kami dalam melahirkan karya-karya kami. Ketika kami menyentuh jari-jemari para pembatik itu, kami merasakan sentuhan yang teramat indah," kata Budi Agung.
Cita rasa berbudaya
Itulah proses, adalah sebuah refleksi perjumpaan demi perjumpaan, penghayatan demi penghayatan, yang akhirnya melahirkan  sebuah cita rasa yang sangat berbudaya. Inilah proses kesenian, yang sangat beda dengan proses sebuah agenda politik, ekonomi, hokum dan lainnya. Atau dengan pengertian lain,pameran ini- meskipun dalam skala kecil- bisa  menunjukkan bahwa kebudayaan bisa menjadi pandangan hidup bagi kehidupan.
Dua perupa ini dalam melahirkan karyanya, memang berkolaborasi dengan ibu-ibu pembatik asal Desa Kebon Indah, Kecamatan Bayat Klaten. Membuat pameran batik kontemperer, batik eksperimen yang menurut istilah mereka sebagai proyek seni. Layak pengakuan mereka, pameran  berbasis hubungan social. Intinya dua perupa itu ingin mengangkat kehidupan para pembatik perempuan desa, dalam karya batik yang merupakan perpaduan antara realisme fotografi dan karya batik.
Dalam Pameran  bertema "Malam Di Jari Kita " yang berlangsung sejak 7April hingga 7 Mei itu, dua perupa menempatkan potret diri para pembatik,sebagai obyek dari sebuah karya batik. Awalnya si perupa menempatkan potret diri si pembatik ke dalam  bahan kain yang akan di batik. Kemudian si perupa mengarahkan para pembatik untuk mencoretkan motif-motif batik yang mereka kuasai ke dalam kain yang sudah ada potret diri mereka.
Yang terjadi kemudian adalah sebuah karya batik dekoratif yang indah dan unik, yang sangat lain dengan motif-motif kain batik yang ada selama ini. Misalnya dalam karya berjudul Lintas Generasi, di sana dua orang ibu dan anaknya berpose bersama. Hanya wajahnya saja yang asli sebagai hasil jeperetan fotografi. Namun seluruh tubuhnya sudah dihiasi oleh motif-motif batik yang variatif. Si ibu menjadi berpenampilan memakai rok motif batik dalam satu motif dan blusnya berhiaskan motif batik yang lain.
Demikian juga si anak, tampil dalam tatanan busana mengenakan rok dan blus yang memiliki motif berbeda. Sementara di latar belakang terdapat corak-corak berbagai  motif yang menumbuhkan keindahan yang sangat nyata.Motif-motif latar belakang itu yang secara bebas ditorehkan oleh para pembatik desa itu.
Karya lain, ada pose seorang ibu dengan dandanan dan pakaian yang bersahaja, sedang membatik, sementara di latar belakangnya awan biru dengan mega-mega putih. Seolah-olah ibu pembatik itu terbang diangkasa biru. Seperti sebuah simbolik, produk batik seperti mengangkasa menjadi produksi konsumtif yang mahal, namun si pembatik tetap saja sederhana kalau tidak boleh dibilang miskin.
14 karya
Ada 14 karya dipamerkan semuanya memiliki nuansa kreatif sebagai wajah baru dari sebuah produk batik. Eksistensi   Diungkapkan oleh Amalinda Savirani selaku Humas dalam pameran ini, perpaduan fotografi dan batik dalam pameran ini, merupakan proses perjalanan seni oleh dua perupa bersama para pembatik.
"Setiap dua perupa itu melihat kain batik, muncul pertanyaan siapa dan bagaimana kehidupan di balik eksistensi batik yang merupakan produk budaya kebanggaan Indonesia sebagai produk  heritage," katanya.
Menurut Amalainda, pameran ini  proyek senirupa berbasis hubungan sosial yang menempatkan kehidupan dan tangan-tangan terampil di balik eksistensi batik. Artinya orang-orang desa sebagai pembatik, di samping ditampilkan potret dirinya juga diberi kebebasan untuk mengekspresikan dirinya dengan mencoret-coretkan kemampuannya sebagai pembatik.
"Prinsipnya dalam pameran ini benar-benar ingin menampilkan wajah pembatik yang memang tak memiliki otoritas atas karya-karyanya,  ditempatkan sebagai yang utama. Sesuatu yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sepanjang perjalanan hidupnya sebagai pembatik," katanya.
Salah satu perupanya, Budi Agung Kusworo menyatakan, dalam pembukaan pameran ini, , dirinya sengaja menyediakan satu bus, untuk membawa semua pembatik dari Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah itu untuk ikut hadir. "Biar mereka bisa menyaksikan karya - karya batik yang diangkat dari kehidupan mereka," katanya.
Pembatik dari Desa Kebon Indah, Bayat, Klaten ini adalah pembatik klasik yang berada dalam wilayah kerajaan yang disebut "vorsetenlanden" yakni wilayah yang meliputi kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Produk dari wilayah ini adalah batik klasik yang ditandai oleh warna dan motif yang khas dari wilayah "vorstenlanden"  yakni warna coklat alami yang cenderung coklat soga dan warna biru indigo, dan motif batik keratin seperti motif parang dan wahyu tumurun.
Dalam tulisan penghantar pemaran ini, perupa Tita Rubi dan Angkasa menyatakan, salah satu bagian tak terpisahkan dari internasionalisasi seni rupa dewasa ini adalah pemusatan infrastruktur dan aktivitas seni rupa di wilayah perkotaan. Internasionalisasi membakukan pemusatan infrasruktur senirupa baik itu galeri, museum, sekolah, balai lelang dan sebagainya.
Infrastruktur ini bekerja seperti membakukan, bagaimana berpameran dan lelang harus diselenggarakan, bagaimana senirupa harus dibuat dan bagaimana kritik harus menulis. Bisa dikatakan sejarah senirupa dewasa ini tengah disusun dan berjalan sebagai sejarah kehidupan wilayah dan komunitas kota.         
"Pameran ini lebih bertendensi sikap partisipatoris. Membangun hubungan selama dan sedalam-dalamnya dengan komunitas desa dan bekerja bersama-sama. Tak ada kedudukan tinggi bagi seniman. Melalui proyek ini dua perupa itu tengah menawarkan sesuatu langkah kreatif yang berani untuk menggeluti persoalan-persoalan," katanya.

Sabtu, 28 April 2012

Wayang Orang Alami Krisis Pertunjukan
Ilustrasi: Pementasan wayang orang bertajuk Gatotkaca Jadi Raja - Battle For The Throne karya sutradara Mirwan Suwarso, di The Hall Senayan City, Jakarta, Sabtu (4/2/2012).
YOGYAKARTA--Wayang orang sebagai bagian dari seni dan budaya Yogyakarta saat ini mengalami krisis pertunjukan, yaitu kurangnya kegiatan pertunjukan sebagai media ekspresi senimannya.
"Saat ini, yang terjadi justru krisis pertunjukan, bukan krisis pemain. Pemain wayang orang cukup banyak, dan regenerasinya pun terus berjalan," kata Altianto, salah seorang seniman wayang orang, di Yogyakarta, Sabtu.
Menurut dia, kesempatan bagi seniman atau kelompok wayang orang untuk melakukan pergelaran dan berinteraksi dengan publik sudah sangat minim dan terbatas sehingga wayang orang terkesan menjadi sebuah pertunjukan yang eksklusif.
Selama ini, lanjut dia, hanya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta yang telah memiliki agenda rutin untuk menyelenggarakan pertunjukan wayang orang tersebut.
"Meskipun pergelaran tersebut dilakukan melalui festival yang diadakan dua tahun sekali," lanjutnya.
Dengan kurangnya kesempatan untuk melakukan pertunjukan, kata Altianto, sejumlah seniman wayang orang pun banting stir untuk bisa menyalurkan ekspresi seninya dengan menari atau kegiatan kesenian lainnya.
"Seniman wayang orang ini juga butuh ruang berekspresi. Karena pertunjukan itu jarang, maka mereka pun memilih melakukan ekspresi seni dalam bentuk lain," katanya.
Salah seorang seniman wayang orang, Sri Kadarjati mengatakan, wayang orang di Yogyakarta mengalami masa jayanya pada saat kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
"Pada masa itu, Sri Sultan selalu menggelar pertunjukan wayang orang. Pertunjukan pun tidak hanya dilakukan satu hari, tetapi bisa dua hingga tiga hari tanpa henti," katanya.
Beliau, lanjut dia, juga memasukkan berbagai inovasi dalam seni pertunjukan wayang orang gaya Yogyakarta.
Sedangkan seniman wayang orang lainnya, RM Ywandjono mengatakan, seorang pemain wayang orang justru akan merasa jaya saat mereka disambut baik dalam pertunjukan di luar negeri.
"Saat melakukan pertunjukan di luar negeri, kami justru merasa sangat dihargai dan dihormati. Setiap kami tampil, tiket selalu habis terjual," katanya.
Ungkapan dari RM Ywandjono yang memiliki Paguyuban Kesenian Surya Kencana tersebut didasarkan pada pengalamannya saat melakukan lawatan ke berbagai negara di Benua Eropa untuk menampilkan pertunjukan wayang orang pada era 1980-an.