ILUSTRASI
MEDIA INFORMASI - Dengan memberikan apresiasi dari kondisi hidup,
ketekunan hidup,dan karya-karya batik Bude Sulasmi telah menginspirasi
kami dalam melahirkan karya-karya kami. Ketika kami menyentuh
jari-jemari para pembatik itu, kami merasakan sentuhan yang indah
Setiap kali mendatangi perajin batik di Dusun
Kebon Indah, Kecamatan Bayat, Klaten Bude Salami selalu menyambut dengan
jabat tangan . Telapak tangan dan jari-jarinya terasa selalu hangat,
meskipun terlihat jari-jarinya selalu lengket oleh lilin lebah yang
digunakan untuk membuat batik tulis. "Kotor-kotor," katanya dengan
ucapan permintaan maaf penuh rendah hati. .
Sederhana dan
terkesan biasa saja apa yang diungkapkan dua perupa Samanta Tio
(Singapura) dan Budi Agung Kusworo (Yogyakarta) dalam katalog pameran
karya rupa batik yang berlangsung di ruang pamer (Indonesia Contemporary
Art Network), Jl Surayodiningratan, Yogyakarta.
Namun perjumpaan
dua perupa itu dengan Bude Lasmi perempuan pembatik tradisional dan
juga pembatik-pembatik lainnya, adalah sebuah proses dari sebuah karya
rupa batik kontemporer yang memberi wacana lain dalam khasanah estetika
batik.
Ya, sekali lagi pameran ini seperti meneguhkan bahwa proses
merupakan kunci dari sebuah karya seni. Sikap hidup, pergaulan dan
pergulatan sosial, sangat mendasari penciptaan karya dua perupa ini.
"Dengan memberikan apresiasi dari kondisi hidup, ketekunan hidup,dan
karya-karya batik Bude Sulasmi telah menginspirasi kami dalam melahirkan
karya-karya kami. Ketika kami menyentuh jari-jemari para pembatik itu,
kami merasakan sentuhan yang teramat indah," kata Budi Agung.
Cita rasa berbudaya
Itulah
proses, adalah sebuah refleksi perjumpaan demi perjumpaan, penghayatan
demi penghayatan, yang akhirnya melahirkan sebuah cita rasa yang sangat
berbudaya. Inilah proses kesenian, yang sangat beda dengan proses
sebuah agenda politik, ekonomi, hokum dan lainnya. Atau dengan
pengertian lain,pameran ini- meskipun dalam skala kecil- bisa
menunjukkan bahwa kebudayaan bisa menjadi pandangan hidup bagi
kehidupan.
Dua perupa ini dalam melahirkan karyanya, memang
berkolaborasi dengan ibu-ibu pembatik asal Desa Kebon Indah, Kecamatan
Bayat Klaten. Membuat pameran batik kontemperer, batik eksperimen yang
menurut istilah mereka sebagai proyek seni. Layak pengakuan mereka,
pameran berbasis hubungan social. Intinya dua perupa itu ingin
mengangkat kehidupan para pembatik perempuan desa, dalam karya batik
yang merupakan perpaduan antara realisme fotografi dan karya batik.
Dalam
Pameran bertema "Malam Di Jari Kita " yang berlangsung sejak 7April
hingga 7 Mei itu, dua perupa menempatkan potret diri para
pembatik,sebagai obyek dari sebuah karya batik. Awalnya si perupa
menempatkan potret diri si pembatik ke dalam bahan kain yang akan di
batik. Kemudian si perupa mengarahkan para pembatik untuk mencoretkan
motif-motif batik yang mereka kuasai ke dalam kain yang sudah ada potret
diri mereka.
Yang terjadi kemudian adalah sebuah karya batik
dekoratif yang indah dan unik, yang sangat lain dengan motif-motif kain
batik yang ada selama ini. Misalnya dalam karya berjudul Lintas
Generasi, di sana dua orang ibu dan anaknya berpose bersama. Hanya
wajahnya saja yang asli sebagai hasil jeperetan fotografi. Namun seluruh
tubuhnya sudah dihiasi oleh motif-motif batik yang variatif. Si ibu
menjadi berpenampilan memakai rok motif batik dalam satu motif dan
blusnya berhiaskan motif batik yang lain.
Demikian juga si anak,
tampil dalam tatanan busana mengenakan rok dan blus yang memiliki motif
berbeda. Sementara di latar belakang terdapat corak-corak berbagai
motif yang menumbuhkan keindahan yang sangat nyata.Motif-motif latar
belakang itu yang secara bebas ditorehkan oleh para pembatik desa itu.
Karya
lain, ada pose seorang ibu dengan dandanan dan pakaian yang bersahaja,
sedang membatik, sementara di latar belakangnya awan biru dengan
mega-mega putih. Seolah-olah ibu pembatik itu terbang diangkasa biru.
Seperti sebuah simbolik, produk batik seperti mengangkasa menjadi
produksi konsumtif yang mahal, namun si pembatik tetap saja sederhana
kalau tidak boleh dibilang miskin.
14 karya
Ada
14 karya dipamerkan semuanya memiliki nuansa kreatif sebagai wajah baru
dari sebuah produk batik. Eksistensi Diungkapkan oleh Amalinda
Savirani selaku Humas dalam pameran ini, perpaduan fotografi dan batik
dalam pameran ini, merupakan proses perjalanan seni oleh dua perupa
bersama para pembatik.
"Setiap dua perupa itu melihat kain batik,
muncul pertanyaan siapa dan bagaimana kehidupan di balik eksistensi
batik yang merupakan produk budaya kebanggaan Indonesia sebagai produk
heritage," katanya.
Menurut Amalainda, pameran ini proyek
senirupa berbasis hubungan sosial yang menempatkan kehidupan dan
tangan-tangan terampil di balik eksistensi batik. Artinya orang-orang
desa sebagai pembatik, di samping ditampilkan potret dirinya juga diberi
kebebasan untuk mengekspresikan dirinya dengan mencoret-coretkan
kemampuannya sebagai pembatik.
"Prinsipnya dalam pameran ini
benar-benar ingin menampilkan wajah pembatik yang memang tak memiliki
otoritas atas karya-karyanya, ditempatkan sebagai yang utama. Sesuatu
yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sepanjang perjalanan hidupnya
sebagai pembatik," katanya.
Salah satu perupanya, Budi Agung
Kusworo menyatakan, dalam pembukaan pameran ini, , dirinya sengaja
menyediakan satu bus, untuk membawa semua pembatik dari Bayat, Kabupaten
Klaten, Jawa Tengah itu untuk ikut hadir. "Biar mereka bisa menyaksikan
karya - karya batik yang diangkat dari kehidupan mereka," katanya.
Pembatik dari Desa Kebon Indah, Bayat, Klaten ini adalah pembatik klasik yang berada dalam wilayah kerajaan yang disebut "
vorsetenlanden"
yakni wilayah yang meliputi kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Produk
dari wilayah ini adalah batik klasik yang ditandai oleh warna dan motif
yang khas dari wilayah "vorstenlanden" yakni warna coklat alami yang
cenderung coklat soga dan warna biru indigo, dan motif batik keratin
seperti motif parang dan wahyu tumurun.
Dalam tulisan
penghantar pemaran ini, perupa Tita Rubi dan Angkasa menyatakan, salah
satu bagian tak terpisahkan dari internasionalisasi seni rupa dewasa ini
adalah pemusatan infrastruktur dan aktivitas seni rupa di wilayah
perkotaan. Internasionalisasi membakukan pemusatan infrasruktur senirupa
baik itu galeri, museum, sekolah, balai lelang dan sebagainya.
Infrastruktur
ini bekerja seperti membakukan, bagaimana berpameran dan lelang harus
diselenggarakan, bagaimana senirupa harus dibuat dan bagaimana kritik
harus menulis. Bisa dikatakan sejarah senirupa dewasa ini tengah disusun
dan berjalan sebagai sejarah kehidupan wilayah dan komunitas kota.
"Pameran ini lebih bertendensi sikap partisipatoris.
Membangun hubungan selama dan sedalam-dalamnya dengan komunitas desa dan
bekerja bersama-sama. Tak ada kedudukan tinggi bagi seniman. Melalui
proyek ini dua perupa itu tengah menawarkan sesuatu langkah kreatif yang
berani untuk menggeluti persoalan-persoalan," katanya.