Minggu, 06 Mei 2012

Jurnalisme Itu adalah Kehidupan Saya
 Sabam Siagian
HEADLINE NEWS - Jika merujuk pada kata-kata bijak, ”Life begins at forty” atau kehidupan dimulai pada usia 40 tahun, Sabam Siagian mulai hari ini memasuki periode kedua dari kehidupannya. Sabam yang Jumat (4/5) kemarin memasuki usia 80 tahun, hari ini mulai meniti hari pertama dari usianya yang ke-81.
Pada periode kedua dari kehidupannya itu, ia banyak mengisi waktu dengan membina wartawan-wartawan muda agar dapat melakukan tugasnya secara profesional. Selama tiga tahun belakangan ini, ia turut berpartisipasi dalam kursus singkat (short course) terkait sekolah jurnalisme Persatuan Wartawan Indonesia yang berlangsung dua minggu. Topik yang dibahas adalah Hubungan Media dengan Pemerintah.
”Dari kursus-kursus singkat itu, yang kebetulan pesertanya wartawan muda dan paruh karier, saya mengetahui bahwa pada hakikatnya wartawan-wartawan itu memiliki iktikad baik. Hanya saja kondisi lingkungan di mana mereka bekerja tidak memungkinkan mereka bekerja secara profesional,” ujar Sabam.
Menurut dia, bagi wartawan yang bekerja di Jakarta, situasinya berbeda. Relatif mereka dapat menjalankan tugas dengan leluasa karena kebebasan pers terjamin. Berbeda dengan yang di daerah, terutama di luar Jawa.
”Kondisinya jauh berbeda,” katanya. Sangat sulit bagi mereka untuk menjalankan tugas secara profesional. Jika mereka tidak hati-hati, bukan tidak mungkin keselamatan jiwa mereka pun terancam.
Seperti diketahui, otonomi daerah membuat para bupati atau wali kota mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Mereka dapat memberikan izin konsesi tambang (batubara), dan sekian ton batubara dibawa ke luar. Ketika salah seorang wartawan daerah bermaksud meliput aktivitas itu, ia dipukul oleh petugas satpam (satuan pengamanan),” kata Sabam.
Ia menambahkan, ”Ketika wartawan itu bertanya kepada saya, bagaimana ia harus meliputnya? Saya hanya bisa menasihatinya agar jangan meliput seorang diri. Ajaklah beberapa kawan, terutama koresponden koran-koran besar Jakarta di daerah. Tujuannya, agar dia tak diperlakukan (penguasa daerah) sewenang-wenang.”
Ancaman bagi wartawan daerah untuk bekerja secara profesional tak hanya tindak kekerasan, tetapi juga ”dibeli” dengan uang sehingga pisau analisis kritisnya menjadi tumpul.
Sabam yang pernah menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Sinar Harapan (1973-1983) dan Pemimpin Redaksi The Jakarta Post (1983-1991) sangat prihatin dengan keadaan yang membelit profesi wartawan di daerah.
Itu sebabnya pada hari ulang tahunnya yang ke-80, yang dirayakan di Lobby Lounge Bima Sena, Hotel Dharmawangsa Jakarta, Sabtu siang ini, ia meluncurkan buku Melacak Makna dalam Peristiwa: Kumpulan Selektif Kolom-kolom 2006- 2009, yang ditulisnya di beberapa media massa.
”Buku ini saya dedikasikan bagi generasi muda wartawan Indonesia agar mereka memegang teguh prinsip keprihatinan, keadilan, dan keseimbangan permberitaan,” ujar Sabam penuh semangat. Perayaan yang diadakan pukul 11.00-14.30 itu didahului kebaktian pengucapan syukur pukul 11.00-12.00.
Turun ke lapangan
Sebagai Pemimpin Redaksi The Jakarta Post (1983-1991), Sabam rajin turun ke lapangan untuk meliput peristiwa penting, terutama yang berhubungan dengan masalah internasional. Itu sebabnya wartawan- wartawan yang meliput masalah internasional tahun 1983-1991 pasti mengenalnya dengan baik.
Dengan berbekal notes dan bolpoin, dengan rajin ia mencatat berbagai informasi yang dianggapnya penting di dalam jumpa pers. Kadang-kadang ia juga membawa tape recorder yang agak besar pada jumpa pers tokoh-tokoh penting.
Ia juga tidak segan-segan menegur wartawan muda yang dianggap bekerja secara tidak profesional. Saya pernah mengalaminya pada pertengahan April 1986 saat meliput jumpa pers Menteri Luar Negeri Amerika Serikat George Shultz menjelang kunjungan Presiden AS Ronald Reagan ke Bali. Ketika itu, sebagian besar pertanyaan yang diajukan wartawan kepada Shultz berkisar tentang bocornya reaktor nuklir Uni Soviet di Chernobyl. Hanya sedikit pertanyaan yang diajukan tentang kunjungan Ronald Reagan ke Bali.
Selesai mengirim berita ke Redaksi Kompas di Jakarta, saya dan beberapa wartawan berkumpul di kamar Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Kompas Jakob Oetama di Hotel Santika, Kuta, Bali. Pak Jakob bertanya, bagaimana tentang jumpa pers George Shultz. Apakah cukup ramai? Saya menjawab, ”Isi jumpa pers itu 80 persen tentang Chernobyl, hanya 20 persen tentang kunjungan Reagan ke Bali.”
Sabam langsung memotong ucapan saya, ”Dari mana kamu tahu bahwa pertanyaan tentang Chernobyl itu sampai 80 persen.” Saya menjawab, ”Saya hanya mengira-ngira.” Sambil membuka-buka notes dan memeriksa catatannya, ia mengatakan, ”Dalam jumpa pers itu, ada 15 pertanyaan, dan 12 di antaranya tentang Chernobyl.” Untunglah ketika dihitung, perkiraan saya betul, yakni 80 persen.
Sabam langsung menambahkan, ”Wartawan itu, mau dia itu pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, atau redaktur, jika turun ke lapangan, harus bertindak sebagai reporter. Ia harus mencatat semua informasi penting dan menajamkan informasi itu jika belum jelas.”
Saya menyadari bahwa saya melakukan kesalahan. Itu sebabnya nasihat itu saya pegang teguh hingga saat ini.
Di sisi lain, Sabam yang cukup populer di kalangan pejabat tinggi negara dan kalangan diplomatik tidak segan-segan memanggil wartawan muda dan memperkenalkannya kepada tokoh-tokoh penting. Ia juga tidak segan membagi informasi penting yang baru diterimanya.
Pernah suatu ketika, dalam suatu kunjungan ke Washington DC, Sabam menerima informasi penting. Ia memanggil saya keluar dari rombongan dan pura-pura menunjuk ke salah satu barang yang dipajang di toko. Padahal, ia tengah membocorkan informasi yang sama sekali tidak berhubungan dengan barang yang ditunjuk-tunjuknya.
Sabam juga aktif berpartisipasi dalam seminar-seminar internasional yang diselenggarakan Centre for Strategic and International Studies di berbagai negara. Namun, ia kerap menjadi bahan ledekan di antara rekannya, seperti Fikri Jufri, August Parengkuan, dan Jusuf Wanandi, karena ia selalu membawa mesin ketik ke mana-mana. Padahal, rekan-rekannya sudah menggunakan laptop. ”Kalau saya tidak mendengar suara mesin ketik, ide besar saya tidak keluar,” ujarnya sambil tertawa.
Menurut pengakuannya, ia masih tetap tidak dapat menggunakan komputer. ”Kalau sekretaris saya tidak masuk, ancur deh...,” katanya.
Kepakarannya sebagai pengamat masalah internasional menjadikannya sempat digunjingkan akan menjadi Duta Besar Indonesia untuk Vietnam. Namun, ternyata ia malah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Australia (1991-1995). Dari sana, ia menjadi anggota MPR dari Utusan Golongan (1999-2004). Kemudian menjadi Editor Senior The Jakarta Post (2005 hingga kini).
Dalam pembahasan di Redaksi Kompas, Jumat, Sabam Siagian mengemukakan kegundahannya. Ia merasa salah diterima oleh saudara-saudaranya sehubungan dengan kehidupannya dengan istrinya, Stella Maris Siagian, yang menderita penyakit Alzheimer sejak 7 tahun lalu. Saat ini, Stella dirawat di rumah perawatan (care house) di Singapura dan kondisinya dimonitor dengan saksama selama 24 jam. ”Ia ditunggui anak saya, Batara Bonar Siagian, yang berkerja di sana,” katanya. Putra sulungnya, Tagor Malasak Siagian, tinggal di Jakarta.
”Ada yang menganggap, sebagai suami, saya harus menunggui istri terus-menerus. Namun, sebagai suami, saya juga harus menjalani kehidupan saya sehari-hari, bukan duduk berpangku tangan dan menangisi keadaan. Saya memilih yang kedua, di mana saya menjalani kehidupan saya yang tak pernah lepas dari jurnalisme,” ujarnya.

Selasa, 01 Mei 2012

Sawung Jabo dan Oppie Menyuarakan Protes Lewat PoP
 Musikalisasi PoP. Dari Kiri-kanan: Oppie Andaresta, Budi Djarot dan Sawung Jabo.
JAKARTA, --  Selasa (1/5/2012) malam ini sebuah pertunjukan musikalisasi akan digelar di Graha Bhakti Budaya (GBB) Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pentas yang bertema Protest of People (PoP)itu akan diramaikan dengan kehadiran musisi Sawung Jabo, Oppie Andaresta  dan budayawan Arswendo Atmowiloto.

Budi Djarot, penggagas acara musikalisasi PoP, mengatakan konser ini digelar sebagai media pengingat bagi para pengelola negara di negeri ini. "Ini memang bukan hiburan yang memanjakan. Tapi sebuah pertunjukan tuntunan yang membangun kesadaran agar kita tetap terjaga dan selalu awas untuk memerhatikan para pengelola negeri ini," ujarnya dalam siaran pers, Selasa (1/5/2012).

Meski begitu, kata Budi, bukan berarti sajian musik yang ditawarkan tak memperhatikan kemasan sebuah pertunjukan. Selain sajian musik ada juga sajian teater, yang mencoba menggambarkan suara keprihatinan dari kami. 

Tak hanya melibatkan Sawung Jabo, Oppie dan Arswendo, musikalisasi PoP akan dimeriahkan dengan penampilan  pemain saxophone Kanny Joe, Maccato Ensambel, RAK Band, Isti Nugroho, Herlina Syarifudin, Syam Biola, Alika Mitari, dan Ar-Tasya Sudirman. ”Lirik-lirik lagu yang kami tampilkan ya memprotes situasi kondisi pengelolaan negara sekarang ini. Juga ada segmen untuk teater," ujarnya.

Musikalisasi PoP, lanjut Budi, merupakan ide lama semenjak mahasiswa yang suka melakukan aksi demonstrasi. "Ini ide sudah lama, karena memang saya kerjaannya protes. Kalau dulu saya protesnya di jalanan, sekarang di panggung, jadi lebih sopan dikit," selorohnya.

Sebagai bentuk apresiasi, kata Budi, tiket untuk pertunjukan dipatok dari Rp 50.000 - Rp 100.000.

Senin, 30 April 2012

Eksistensi Kehidupan dalam Lembar Kain Batik

 ILUSTRASI
MEDIA INFORMASI - Dengan memberikan apresiasi dari kondisi hidup, ketekunan hidup,dan karya-karya batik Bude Sulasmi telah menginspirasi kami dalam melahirkan karya-karya kami. Ketika kami menyentuh jari-jemari para pembatik itu, kami merasakan sentuhan yang indah
Setiap kali mendatangi perajin batik di Dusun Kebon Indah, Kecamatan Bayat, Klaten Bude Salami selalu menyambut dengan jabat tangan . Telapak tangan dan jari-jarinya terasa selalu hangat, meskipun terlihat jari-jarinya selalu lengket oleh lilin lebah yang digunakan untuk membuat batik tulis. "Kotor-kotor," katanya dengan ucapan permintaan maaf penuh rendah hati. .   
Sederhana dan terkesan biasa saja apa yang diungkapkan dua perupa Samanta Tio (Singapura) dan Budi Agung Kusworo (Yogyakarta) dalam katalog pameran karya rupa batik yang berlangsung di ruang pamer (Indonesia Contemporary Art Network), Jl Surayodiningratan, Yogyakarta.
Namun perjumpaan dua perupa itu dengan Bude Lasmi perempuan pembatik tradisional dan juga pembatik-pembatik lainnya,  adalah sebuah proses dari sebuah karya rupa batik kontemporer yang memberi wacana lain dalam khasanah estetika batik.
Ya, sekali lagi pameran ini seperti meneguhkan bahwa proses merupakan kunci dari sebuah karya seni. Sikap hidup, pergaulan dan pergulatan sosial, sangat mendasari penciptaan karya dua perupa ini. "Dengan memberikan apresiasi dari kondisi hidup, ketekunan hidup,dan karya-karya batik Bude Sulasmi telah menginspirasi kami dalam melahirkan karya-karya kami. Ketika kami menyentuh jari-jemari para pembatik itu, kami merasakan sentuhan yang teramat indah," kata Budi Agung.
Cita rasa berbudaya
Itulah proses, adalah sebuah refleksi perjumpaan demi perjumpaan, penghayatan demi penghayatan, yang akhirnya melahirkan  sebuah cita rasa yang sangat berbudaya. Inilah proses kesenian, yang sangat beda dengan proses sebuah agenda politik, ekonomi, hokum dan lainnya. Atau dengan pengertian lain,pameran ini- meskipun dalam skala kecil- bisa  menunjukkan bahwa kebudayaan bisa menjadi pandangan hidup bagi kehidupan.
Dua perupa ini dalam melahirkan karyanya, memang berkolaborasi dengan ibu-ibu pembatik asal Desa Kebon Indah, Kecamatan Bayat Klaten. Membuat pameran batik kontemperer, batik eksperimen yang menurut istilah mereka sebagai proyek seni. Layak pengakuan mereka, pameran  berbasis hubungan social. Intinya dua perupa itu ingin mengangkat kehidupan para pembatik perempuan desa, dalam karya batik yang merupakan perpaduan antara realisme fotografi dan karya batik.
Dalam Pameran  bertema "Malam Di Jari Kita " yang berlangsung sejak 7April hingga 7 Mei itu, dua perupa menempatkan potret diri para pembatik,sebagai obyek dari sebuah karya batik. Awalnya si perupa menempatkan potret diri si pembatik ke dalam  bahan kain yang akan di batik. Kemudian si perupa mengarahkan para pembatik untuk mencoretkan motif-motif batik yang mereka kuasai ke dalam kain yang sudah ada potret diri mereka.
Yang terjadi kemudian adalah sebuah karya batik dekoratif yang indah dan unik, yang sangat lain dengan motif-motif kain batik yang ada selama ini. Misalnya dalam karya berjudul Lintas Generasi, di sana dua orang ibu dan anaknya berpose bersama. Hanya wajahnya saja yang asli sebagai hasil jeperetan fotografi. Namun seluruh tubuhnya sudah dihiasi oleh motif-motif batik yang variatif. Si ibu menjadi berpenampilan memakai rok motif batik dalam satu motif dan blusnya berhiaskan motif batik yang lain.
Demikian juga si anak, tampil dalam tatanan busana mengenakan rok dan blus yang memiliki motif berbeda. Sementara di latar belakang terdapat corak-corak berbagai  motif yang menumbuhkan keindahan yang sangat nyata.Motif-motif latar belakang itu yang secara bebas ditorehkan oleh para pembatik desa itu.
Karya lain, ada pose seorang ibu dengan dandanan dan pakaian yang bersahaja, sedang membatik, sementara di latar belakangnya awan biru dengan mega-mega putih. Seolah-olah ibu pembatik itu terbang diangkasa biru. Seperti sebuah simbolik, produk batik seperti mengangkasa menjadi produksi konsumtif yang mahal, namun si pembatik tetap saja sederhana kalau tidak boleh dibilang miskin.
14 karya
Ada 14 karya dipamerkan semuanya memiliki nuansa kreatif sebagai wajah baru dari sebuah produk batik. Eksistensi   Diungkapkan oleh Amalinda Savirani selaku Humas dalam pameran ini, perpaduan fotografi dan batik dalam pameran ini, merupakan proses perjalanan seni oleh dua perupa bersama para pembatik.
"Setiap dua perupa itu melihat kain batik, muncul pertanyaan siapa dan bagaimana kehidupan di balik eksistensi batik yang merupakan produk budaya kebanggaan Indonesia sebagai produk  heritage," katanya.
Menurut Amalainda, pameran ini  proyek senirupa berbasis hubungan sosial yang menempatkan kehidupan dan tangan-tangan terampil di balik eksistensi batik. Artinya orang-orang desa sebagai pembatik, di samping ditampilkan potret dirinya juga diberi kebebasan untuk mengekspresikan dirinya dengan mencoret-coretkan kemampuannya sebagai pembatik.
"Prinsipnya dalam pameran ini benar-benar ingin menampilkan wajah pembatik yang memang tak memiliki otoritas atas karya-karyanya,  ditempatkan sebagai yang utama. Sesuatu yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sepanjang perjalanan hidupnya sebagai pembatik," katanya.
Salah satu perupanya, Budi Agung Kusworo menyatakan, dalam pembukaan pameran ini, , dirinya sengaja menyediakan satu bus, untuk membawa semua pembatik dari Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah itu untuk ikut hadir. "Biar mereka bisa menyaksikan karya - karya batik yang diangkat dari kehidupan mereka," katanya.
Pembatik dari Desa Kebon Indah, Bayat, Klaten ini adalah pembatik klasik yang berada dalam wilayah kerajaan yang disebut "vorsetenlanden" yakni wilayah yang meliputi kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Produk dari wilayah ini adalah batik klasik yang ditandai oleh warna dan motif yang khas dari wilayah "vorstenlanden"  yakni warna coklat alami yang cenderung coklat soga dan warna biru indigo, dan motif batik keratin seperti motif parang dan wahyu tumurun.
Dalam tulisan penghantar pemaran ini, perupa Tita Rubi dan Angkasa menyatakan, salah satu bagian tak terpisahkan dari internasionalisasi seni rupa dewasa ini adalah pemusatan infrastruktur dan aktivitas seni rupa di wilayah perkotaan. Internasionalisasi membakukan pemusatan infrasruktur senirupa baik itu galeri, museum, sekolah, balai lelang dan sebagainya.
Infrastruktur ini bekerja seperti membakukan, bagaimana berpameran dan lelang harus diselenggarakan, bagaimana senirupa harus dibuat dan bagaimana kritik harus menulis. Bisa dikatakan sejarah senirupa dewasa ini tengah disusun dan berjalan sebagai sejarah kehidupan wilayah dan komunitas kota.         
"Pameran ini lebih bertendensi sikap partisipatoris. Membangun hubungan selama dan sedalam-dalamnya dengan komunitas desa dan bekerja bersama-sama. Tak ada kedudukan tinggi bagi seniman. Melalui proyek ini dua perupa itu tengah menawarkan sesuatu langkah kreatif yang berani untuk menggeluti persoalan-persoalan," katanya.

Sabtu, 28 April 2012

Wayang Orang Alami Krisis Pertunjukan
Ilustrasi: Pementasan wayang orang bertajuk Gatotkaca Jadi Raja - Battle For The Throne karya sutradara Mirwan Suwarso, di The Hall Senayan City, Jakarta, Sabtu (4/2/2012).
YOGYAKARTA--Wayang orang sebagai bagian dari seni dan budaya Yogyakarta saat ini mengalami krisis pertunjukan, yaitu kurangnya kegiatan pertunjukan sebagai media ekspresi senimannya.
"Saat ini, yang terjadi justru krisis pertunjukan, bukan krisis pemain. Pemain wayang orang cukup banyak, dan regenerasinya pun terus berjalan," kata Altianto, salah seorang seniman wayang orang, di Yogyakarta, Sabtu.
Menurut dia, kesempatan bagi seniman atau kelompok wayang orang untuk melakukan pergelaran dan berinteraksi dengan publik sudah sangat minim dan terbatas sehingga wayang orang terkesan menjadi sebuah pertunjukan yang eksklusif.
Selama ini, lanjut dia, hanya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta yang telah memiliki agenda rutin untuk menyelenggarakan pertunjukan wayang orang tersebut.
"Meskipun pergelaran tersebut dilakukan melalui festival yang diadakan dua tahun sekali," lanjutnya.
Dengan kurangnya kesempatan untuk melakukan pertunjukan, kata Altianto, sejumlah seniman wayang orang pun banting stir untuk bisa menyalurkan ekspresi seninya dengan menari atau kegiatan kesenian lainnya.
"Seniman wayang orang ini juga butuh ruang berekspresi. Karena pertunjukan itu jarang, maka mereka pun memilih melakukan ekspresi seni dalam bentuk lain," katanya.
Salah seorang seniman wayang orang, Sri Kadarjati mengatakan, wayang orang di Yogyakarta mengalami masa jayanya pada saat kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
"Pada masa itu, Sri Sultan selalu menggelar pertunjukan wayang orang. Pertunjukan pun tidak hanya dilakukan satu hari, tetapi bisa dua hingga tiga hari tanpa henti," katanya.
Beliau, lanjut dia, juga memasukkan berbagai inovasi dalam seni pertunjukan wayang orang gaya Yogyakarta.
Sedangkan seniman wayang orang lainnya, RM Ywandjono mengatakan, seorang pemain wayang orang justru akan merasa jaya saat mereka disambut baik dalam pertunjukan di luar negeri.
"Saat melakukan pertunjukan di luar negeri, kami justru merasa sangat dihargai dan dihormati. Setiap kami tampil, tiket selalu habis terjual," katanya.
Ungkapan dari RM Ywandjono yang memiliki Paguyuban Kesenian Surya Kencana tersebut didasarkan pada pengalamannya saat melakukan lawatan ke berbagai negara di Benua Eropa untuk menampilkan pertunjukan wayang orang pada era 1980-an.